Beranda » Bangsa Penakluk dari Asia Tengah

Bangsa Penakluk dari Asia Tengah

Asia Tengah, sebuah wilayah marjinal di pedalaman benua Asia, adalah tempat bermukimnya bangsa-bangsa penakluk. Disini selain ras Turkik, juga terdapat suku bangsa Mongol. Mereka telah mengembara sejak ribuan tahun lalu, menaklukkan berbagai peradaban besar dan (kemudian) mendirikan kerajaan-kerajaan kuat. Orang-orang Asia Tengah dikenal sebagai pejuang yang ulung. Alamnya yang berupa gurun, stepa, dan bukit, menyebabkan masyarakatnya hidup dari berburu, dan saling berperang satu sama lainnya. Beberapa tokoh militer yang melegenda, seperti Jengis Khan (1162-1227), Timurlenk (1336-1405), Muhammad al-Fatih (1432-1481), dan Muhammad Babur (1483-1530), lahir dari kelompok masyarakat ini. Bangsa Asia Tengah boleh jadi merupakan kelompok etnik terbesar saat ini, yang masih hidup dengan cara berpindah-pindah. Kehidupannya yang nomaden, berpotensi menjadi ancaman bagi peradaban-peradaban besar yang mapan. Sejarah telah membuktikan, bahwa bangsa-bangsa Asia Tengah yang perkasa itu, telah meluluhlantakkan imperium-imperium agung seperti Romawi, Byzantium, Abbasiyah, dan Song China.

Ras Turkik

Bangsa Turkik adalah satu dari dua ras utama penghuni Asia Tengah. Mereka diperkirakan berasal dari Pegunungan Altai, yang kemudian bermigrasi ke arah barat hingga mencapai Pegunungan Ural dan Selat Bosporus. Saat ini jumlah mereka tak lebih dari 200 juta jiwa. Beberapa kelompok etnik yang tergolong ke dalam bangsa ini antara lain : Uyghur, Tajik, Uzbek, Azerbaijan, Kazakh, Turkmen, Tatar, Kirgiz, Bashkir, dan Turki. Serta termasuk pula di dalamnya orang-orang Hun, Bulgar, Khazar, dan Timuriyah. Suku-suku tersebut dewasa ini merupakan representasi dari negara Tajikistan, Kirgiztan, Kazakhtan, Uzbekistan, Turkmenistan, dan Turki.

Namun jika dilihat kepada sejarah masa lalu, sebenarnya bangsa Turkik telah banyak mendirikan negara-negara kerajaan, yang bahkan beberapa diantaranya menjadi imperium besar. Suku Hun yang bermukim di sekitar sungai Volga, merupakan bangsa Turkik pertama yang mendirikan kerajaan besar. Hunnic Empire diperkirakan berdiri pada 370 SM hingga tahun 469. Di bawah kepemimpinan Attila, kerajaan ini mencapai puncaknya. Membentang dari Eropa Tengah ke Laut Hitam serta dari Sungai Danube ke Laut Baltik. Attila juga melakukan penyerangan terhadap bangsa Gothik di Perancis dan Italia. Meski kampanyenya di dua negara tersebut mengalami kegagalan, namun serangannya itu telah melemahkan kekuasaan raja-raja Romawi.

600 tahun setelah kehancuran imperium Hun, bangsa Turkik kembali bangkit dari tidur panjangnya. Tughril (990-1063), yang menyatukan prajurit-prajurit suku Turkmen, mendirikan Dinasti Seljuk pada tahun 1037. Pada mulanya dinasti ini hanya bagian dari kekuasaan Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Namun orang-orang Turkik, berhasil memainkan peranan penting dalam dunia militer dan politik kerajaan, sekaligus menggantikan posisi orang-orang Arab dan Persia yang mulai melemah. Dinasti Seljuk kemudian lepas dari kekuasaan Abbasiyah dan mencapai puncak kejayaannya pada masa kepemimpinan Alp Arslan. Di tahun 1068, Arslan menaklukkan semenanjung Anatolia dan memaksa mundur orang-orang Byzantium ke Eropa Timur. Penaklukan Arslan menjadi titik balik kebangkitan Turki dan kemunduran bangsa Eropa selama 600 tahun kemudian. Pada pertengahan abad ke-12, Dinasti Seljuk mulai melemah. Hal ini disebabkan oleh pemberontakan orang-orang mamluk Khwarezmi, yang kemudian berlanjut oleh penyerangan bangsa Kurdi dari Kerajaan Ayyubiyah.

Meski Dinasti Seljuk kalah dan terpecah belah, beberapa prajurit Turki yang tak mau menyerah, melakukan konsolidasi kekuatan. Mayoritas mereka terkonsentrasi di semenanjung Anatolia. Osman Gazi, salah satu dari keturunan pemimpin Seljuk, mendirikan Kesultanan Osmaniyah (Utsmaniyah atau Ottoman) pada tahun 1299. Kesultanan ini pada masa puncaknya memiliki teritori yang cukup luas, berkuasa di tiga benua, dan mempunyai angkatan perang yang sangat ditakuti. Tahun 1453 merupakan awal mula kejayaan Imperium Osmaniyah. Pada masa itu, Muhammad al-Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel sekaligus membuka pintu bagi orang-orang Turki untuk menyapu daratan Eropa. Hingga kepemimpinan Suleiman “the Magnificent” (1494-1566), Osmaniyah telah berhasil menguasai dua pertiga daratan Eropa, seluruh wilayah Asia Barat dan Afrika Utara, serta kota-kota penting di sekeliling Lautan Tengah. Tidak hanya itu, Suleiman juga berhasil merumuskan peraturan serta undang-undang yang berlandaskan Islam, dan masih digunakan oleh berbagai negara hingga saat ini. Imperium Osmaniyah mengalami kehancuran pada awal abad ke-20. Keterlibatannya dalam Perang Dunia Pertama, menjadi faktor utama bubarnya imperium yang telah berkuasa selama 625 tahun itu.

Jika di sebelah barat orang-orang Turki berhasil mendirikan Dinasti Seljuk dan Imperium Osmaniyah, maka di bagian timur mereka membangun Kesultanan Mughal. Mughal didirikan oleh Muhammad Babur pada tahun 1526. Kesultanan ini merupakan kelanjutan dari Dinasti Timuriyah yang berkuasa di Iran pada abad ke-14 hingga ke-16. Di awal abad ke-16, Babur bersama para prajurit Turki melakukan invasi ke kawasan utara India. Mereka menaklukkan Kesultanan Delhi dan Kesultanan Bengal yang sudah bertapak sejak ratusan tahun sebelumnya.

Masa puncak kejayaan Mughal dicapai pada masa pemerintahan Muhammad Akbar (1542-1605). Setelah melakukan serangkaian penaklukan terhadap kelompok Hindu Rajput, Akbar mempersatukan orang-orang Muslim dan Hindu dengan melakukan perkawinan diantara mereka. Akbar juga memperkenankan berkembangnya tradisi Zoroastrianisme, Katholik, dan Jainisme di tengah-tengah masyarakat. Salah satu terobosannya yang cukup penting adalah membebasan pajak bagi masyarakat Hindu. Hal ini merupakan salah satu bentuk empatinya terhadap mereka yang tertaklukkan.

Sebagian sejarawan mengatakan bahwa Aurangzeb (1618-1707) adalah sultan Mughal yang terpenting. Ia memimpin selama 49 tahun, menguasai daerah seluas 1,25 juta km2, memerintah hampir seperempat penduduk dunia, dan berhasil membawa Mughal menjadi salah satu negara terkaya. Bendahara kesultanan mencatat bahwa pemasukan tahunan pemerintahan Aurangzeb mencapai £100 juta, yang berasal dari pajak, bea, dan pendapatan tanah di 24 wilayah propinsi. Tidak seperti para pendahulunya : Akbar, Jahangir, dan Shah Jahan yang berpandangan liberal, Aurangzeb justru merupakan seorang muslim konservatif, yang berusaha mengembalikan kedudukan Al Quran dan hadist kepada tempatnya. Seperti halnya Suleiman, ia juga merumuskan hukum Islam ke dalam undang-undang negara. Ia melarang segala bentuk prostitusi, alkohol, narkotika, dan perjudian. Setelah kematian Aurangzeb, imperium Mughal mengalami kemunduran. Beberapa wilayah kekuasaannya diambil alih Kerajaan Maratha dan akhirnya oleh Imperium Inggris.

Ras Mongol

Bangsa Mongol merupakan sekelompok etnik yang mendiami Gurun Gobi dan stepa di wilayah utara Cina. Pada abad ke-7 SM, mereka bermigrasi ke arah timur laut Cina dan membentuk peradaban Donghu. Donghu merupakan sebuah konfederasi orang-orang Mongol yang hidup dari berternak dan bercocok tanam. Mereka juga mengembangkan kerajinan tangan yang terbuat dari bahan-bahan perunggu. Pada tahun 209 SM, Modu Chanyu (234 SM-174 SM) mendirikan Kerajaan Xiongnu. Pada mulanya Modu menganeksasi Donghu, kemudian ia berhasil mengumpulkan seluruh suku-suku pengembara dan menaklukkan wilayah yang cukup luas. Xiongnu bahkan mengancam Dinasti Han di selatan, dan memaksa orang-orang Cina untuk membangun tembok besar (Great Wall). Pada masa puncak kejayaan, Imperium Xiongnu terbentang dari Sungai Liao di timur hingga ke Pegunungan Pamir di sebelah barat. Atau satu setengah kali lebih besar dari teritori Mongolia saat ini.

Tahun 1206 merupakan titik balik bagi kebangkitan bangsa Mongol. Jengis Khan (Temujin), seorang pemburu dan ahli perang yang brilian, mendirikan Imperium Mongol (Mongol Empire). Di bawah kekuasaannya ia menyatukan seluruh bangsa Mongol dan Turkik, termasuk juga di dalamnya bangsa Cina, Arab, dan Persia. Jengis adalah seorang yang kuat dan jenius, disamping juga berwatak kejam dan brutal. Dalam kampanyenya ke berbagai negara, ia telah membunuh jutaan rakyat sipil, membantai ribuan binatang, serta membakar ratusan bangunan dan lahan pertanian.

Pada mulanya ia menyatukan suku-suku Merkit, Naiman, Mongol, Kerait, Tatar, dan Uyghur, di sekitar Gurun Gobi. Kemudian ia memimpin sejumlah pasukan berkuda untuk menyerang negara-negara disekitarnya. Pada periode 1206-1215, ia menaklukkan Xia Dinasti dan Jin Dinasti. Tiga tahun berikutnya merebut Kuchlug dan Kerajaan Kara-Khitan. Di tahun 1219, Jengis berencana untuk menguasai Imperium Khwarezmi. Untuk itu, ia menyiapkan sekitar 200.000 orang prajurit, yang termasuk di dalamnya jenderal-jenderal terbaik dan para putranya. Dua tahun kemudian, Urgench : benteng terakhir Khwarezmi, sudah dapat dihancurkan. Namun dalam penaklukkan itu, sekitar 1,2 juta orang Urgench tewas seketika. Invasi tersebut merupakan salah satu tragedi terburuk dalam sejarah umat manusia.

Setelah Jengis Khan wafat, posisinya digantikan oleh putranya : Ogedei Khan (1186-1241). Namun kepemimpinan dan kecepatan invasi Ogedei tak sebanding dengan ayahnya. Kublai Khan (1215-1294), cucu Jengis dari putra bungsunya : Tolui, justru memiliki reputasi yang lebih baik. Kublai dikenal sebagai pendiri Dinasti Yuan Cina. Dia merupakan orang Mongol pertama yang berhasil menguasai seluruh daratan Cina. Tak hanya itu, ia juga berhasil menaklukkan Baghdad, ibu kota Imperium Abbasiyah, dan separauh daratan Eropa. Selain melakukan ekspansi militer, Kublai juga mengembangkan ilmu pengetahuan dan seni. Konon selama kepemimpinannya, ia telah mendirikan 20.166 sekolah umum. Setelah kematiannya, Imperium Mongol tercerai berai. Terbagi menjadi empat kerajaan : Chagatai, Kipchak, Ilkhanat, dan Yuan Cina. Pada masa puncaknya, imperium ini menguasai wilayah seluas 24 juta km2 (16% dari seluruh daratan di muka bumi), dan memerintah 100 juta orang penduduk. Meski hanya bertahan 162 tahun, namun pencapaian ini merupakan raihan terbesar yang pernah diukir oleh umat manusia.

Afandri Adya