Beranda » Ma’ Nene’, tradisi mengganti pakaian jenazah di Toraja

Ma’ Nene’, tradisi mengganti pakaian jenazah di Toraja

a0b6c4184bdca177b18186c4d7786a54_manene-300x240

Ma Nene adalah salah satu kegiatan ritual adat di Toraja, khususnya di Baruppu, Rinding Allo Toraja Utara. Upacara
Ma Nenek dimaksudkan untuk mengganti pakaian Almarhum, sebagai perwujudan dari rasa cinta keluarga yang masih hidup.

Biasanya, Ma Nene digelar tiap bulan Agustus. Saat Ma Nene berlangsung, peti-peti mati para leluhur, tokoh dan orang tua, dikeluarkan dari makam-makam dan liang batu dan diletakkan di arena upacara. Di sana, sanak keluarga dan para kerabat sudah berkumpul. Secara perlahan, mereka mengeluarkan jenazah (baik yang masih utuh maupun yang tinggal tulang-belulang) dan mengganti busana yang melekat di tubuh jenazah dengan yang baru.Mereka memperlakukan sang mayat seolah-olah masih hidup dan tetap menjadi bagian keluarga besar.

Ritual Ma Nene oleh masyarakat Baruppu dianggap sebagai wujud kecintaan mereka pada para leluhur, tokoh dan kerabat yang sudah meninggal dunia. Mereka tetap berharap, arwah leluhur menjaga mereka dari gangguan jahat, hama tanaman, juga kesialan hidup.


Sejarah Ritul Ma Nene dimulai dari seorang pemburu binatang bernama Pong Rumasek,


Pong Rumasek sewaktu berburu di kawasan hutan pegunungan Balla.Beliau menemukan jasad seseorang yang telah lama meninggal dunia. Mayat itu tergeletak di bawah pepohonan dan hanya tinggal tulang-belulang.


Merasa iba, Pong Rumasek kemudian merawat mayat semampunya.Dibungkusnya tulang-belulang dengan baju yang dipakainya, lalu diletakkan di areal yang lapang. Setelah itu, Pong Rumasek kembali berburu.Tak disangka,setelah memberlakukan mayit seperti itu,beliau selalu beroleh hasil yang besar dalam berburu.Dan sesampainya di rumahnya, Pong Rumasek mendapati tanaman padi di sawah miliknya sudah menguning dan siap panen sebelum waktunya.


Pong Rumasek menganggap,beberapa keberuntungan diperolehnya berkat perilaku yang ditunjukkan sewaktu merawat mayat tak bernama tersebut.


Sejak saat itulah,Pong Rumasek dan masyarakat Baruppu memuliakan mayat para leluhur, tokoh dan kerabat dengan upacara Ma Nene.


Ritual Ma Nene juga memiliki aturan tak tertulis yang mengikat warga. Misalnya, jika seorang istri atau suami meninggal dunia, maka pasangan yang ditinggal mati tak boleh kawin lagi sebelum mengadakan Ma Nene untuknya.

Ketika Ma Nene digelar, para perantau asal Baruppu yang bertebaran ke nusantara akan pulang kampung demi mengikuti ritual.Warga Baruppu memiliki keyakikan, jika Ma Nene tidak digelar maka leluhur juga akan luput menjaga mereka.